PT Salawati Hijau Lestari bekerja dengan tiga fokus utama dalam pengelolaan hutan berkelanjutan
SHL mendukung pemanfaatan kawasan hutan untuk jasa lingkungan seperti perlindungan keanekaragaman hayati, pengaturan tata air, dan upaya pelestarian lingkungan jangka panjang.
Kami mengelola potensi hasil hutan bukan kayu secara berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi tanpa merusak tutupan hutan.
SHL turut mengelola kawasan hutan untuk berbagai bentuk pemanfaatan yang tidak merusak, termasuk edukasi dan program pemberdayaan masyarakat.
Sebagai pemegang izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan untuk jasa lingkungan pertama di Papua yang diberikan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi, atas nama Menteri Kehutanan, PT SHL bekerja dengan total wilayah konsesi seluas 78.390 hektare
Inanwatan merupakan distrik pesisir yang dibelah oleh Sungai Siganoy—sungai besar yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat setempat. Secara administratif, wilayah ini terdiri dari 9 kampung definitif. Sebagian besar warganya bermata pencaharian sebagai nelayan, memanfaatkan kekayaan pesisir dan hutan mangrove yang melimpah dengan potensi ikan, udang, dan kepiting.
Matemani merupakan distrik yang seluruh kampungnya dialiri oleh sungai panjang bernama Sungai Matemani. Sungai ini adalah sumber penghidupan masyarakat. Secara administratif, wilayah ini terdiri dari enam kampung definitif. Selain bertani dan mengelola hasil hutan seperti sagu, dan komoditas kebun lainnya, sebagian masyarakat di beberapa kampung juga bekerja sebagai buruh di perusahaan sawit dan sagu. Lanskap dataran rendah yang dipenuhi hutan sekunder, dan areal perkebunan, serta beberapa tradisi unik menjadi ciri khas utama yang membedakan distrik ini dari wilayah sekitar.
Sungai Kenaburi adalah sungai utama yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Kokoda. Secara administratif, Distrik Kokoda terdiri dari 16 kampung definitif. Sebagian besar warganya bermata pencaharian sebagai nelayan dan penokok sagu, serta menggantungkan hidup pada kegiatan berburu, berkebun, dan pemanfaatan hasil hutan secara tradisional. Kokoda juga dikenal sebagai kawasan bernilai ekologis tinggi karena menjadi habitat beragam jenis burung dan satwa hutan lainnya.
Kokoda Utara merupakan distrik yang jarak tempuhnya paling jauh dari Teminabuan dibandingkan distrik-distrik lainnya. Empat kampung bisa akses melalui Sungai Kamundan dan lima kampung lainya bisa diakses melalui Sungai Kenaburi. Secara administratif, wilayah ini terdiri dari 9 kampung definitif. Sebagian besar warganya bermata pencaharian sebagai nelayan, penokok sagu, berburu, dan memanfaatkan hasil hutan secara tradisional. Sama seperti Kokoda, wilayah ini juga kaya akan habitat beragam jenis burung dan satwa hutan lainnya.